Blog ini ber isi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan dasar.

16 Oktober 2010

Sistem Pembelajaran Moving Kelas
SMA NEGERI 1 PURWAREJA KLAMPOK
Oleh : MASKUN, S.Pd.

Pada tahun pelajaran 2008-2009 SMA Negeri 1 Purwareja Klampok mencoba dengan segala kekurangan dan kelebihannya menerapkan proses belajar mengajar menggunakan Kelas Berpindah (moving Kelas) dalam rangka menunjang terlaksananya sistem Pembelajaran yang tersurat dalam Sekolah Kategori Mandiri

Pelaksanaan Pembelajaran dalam SKM berdasarkan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan telah menetapkan kebijakan tentang pengkategorian sekolah berdasarkan tingkat keterlaksanaan standar nasional pendidikan ke dalam kategori standar, mandiri dan bertaraf internasional. Pasal Ayat 2 dan Ayat 3 Peraturan Pemerintah tersebut menyebutkan bahwa dengan diberlakukannya Standar Nasional Pendidikan, maka Pemerintah memiliki kepentingan untuk memetakan sekolah menjadi sekolah yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan sekolah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan.

Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah mengkategorikan sekolah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri, dan sekolah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa kategori sekolah standard dan mandiri didasarkan pada terpenuhinya delapan Standar Nasional Pendidikan (standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan). Pemerintah telah menetapkan bahwa satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan tersebut paling lambat 7 (tujuh) tahun sejak diterbitkannya Peraturan Pemerintah tersebut. Hal tersebut berarti bahwa paling lambat pada tahun 2013 semua sekolah jalur pendidikan formal khususnya di SMA sudah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang berarti berada pada kategori sekolah mandiri.

SMA Negeri 1 Purwareja Klampok sebagai salah satu sekolah Rintisan SKM telah memiliki program-program yang berkaitan dengan persiapan dan pelaksanaannya. Pada tahun pelajaran 2008/2009 merupakan tahap awal rintisan SKM diharapkan dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran yang diisyaratkan dalam pelaksanaan SKM. Dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan, maka perlu disusun suatu acuan dasar dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, salah satunya adalah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan sistem Kelas Berpindah (moving Kelas).

Pembelajaran sistem moving Kelas adalah kegiatan pembelajaran dengan peserta didik berpindah sesuai dengan pelajaran yang diikutinya. Dengan demikian diperlukan adanya kelas mata pelajaran atau kelas mata pelajaran serumpun untuk memudahkan dalam proses terlaksanaannya dan memudahkan dalam pengaturan kegiatan mengajar guru yang dilaksanakan secara Team Teaching. Pembelajaran dengan Team Teaching memudahkan guru dalam mengembangkan materi pembelajaran, kegiatan penilaian, kegiatan remedial dan pengayaan serta mengambil keputusan dalam menentukan tingkat pencapaian peserta didik terhadap mata pelajaran atau materi tertentu. Agar pelaksanaan dengan sistem Kelas berpindah dapat terlaksana dengan baik dan memberi peningkatan yang signifikan terhadap mutu pembelajaran dan lulusan peserta didik maka perlu disusun strategi pelaksanaan, perangkat peraturan dan administrasi yang dibutuhkan dalam kegiatan tersebut

Strategi Pelaksanaan Moving Kelas dalam SKM

Strategi pembelajaran dengan sistem moving Kelas merupakan salah satu syarat pelaksanaan Sekolah Kategori Mandiri dilaksanakan dengan pendekatan kelas mata pelajaran. Pendekatan ini mensyaratkan agar sekolah menyediakan kelas-kelas untuk kegiatan pembelajaran mata pelajaran tertentu atau untuk rumpun tertentu. Startegi ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu:
Guru memiliki ruang mengajar sendiri yang memungkinkan untuk melakukan penataan sesuai karakteristik mata pelajaran
Ø Guru memungkinkan untuk mengoptimalkan sumber-sumber belajar dan media pembelajaran yang dimiliki karena penggunaannya tidak terikat oleh keterbatasan sirkulasi dan troubeling.
Ø Guru berperan secara aktif dalam mengontrol prilaku peserta didik dalam belajar.
Ø Pembelajaran dengan Team Teaching mudah dilakukan karena guru-guru dalam mata pelajaran yang sama terkumpul dalam satu tempat sehingga memudahkan dalam koordinasi.
Ø Penilaian terhadap hasil belajar peserta didik lebih obyektif dan optimal karena penilainnya dilakukan secara TIM sehingga dapat mengurangi inkonsistensi dalam penilaian terhadap mata pelajaran tertentu.
Ø Untuk mencapai hasil yang optimal dalam pembelajaran yang dilakukan secara moving Kelas maka perlu ditetapkan strategi pelaksanaannya. Pengorganisasian Pelaksana, tugas, kewajiban dan wewenang.

1. Penanggung Jawab Akademik

Ø Penanggung jawab akademik secara umum memiliki peran sebagai wali kelas, disamping itu memiliki tugas dan kewajiban khusus:
Ø Membuat rekap terhadap kejadian-kejadian khusus terhadap peserta didik yang menjadi tanggungjawabnya yang diserahkan kepada guru pembimbing
Ø Memberi bimbingan terhadap peserta didik yang membutuhkan penanganan khusus dibidang akademik dalam rangka meningkatkan hasil belajarnya
Ø Membuat rekap terhadap tingkat kehadiran peserta didik, mengumpulkan nilai hasil belajar peserta didik yang diserahkan kepada TIM TIK dalam rangka pengolahan laporan hasil belajar peserta didik (LHBPD).

2. TIM Pengembang TIK

TIM Pengembang TIK secara umum berkewajiban melakukan perawatan dan pengembangan prasarana TIK yang berkaitan dengan administrasi dan Pembelajaran. Secara khusus TIM TIK memiliki tugas:
Ø Melakukan pengolahan nilai, baik untuk nilai midsemester maupun nilai semester yang telah diserahkan oleh Penanggung Jawab Akademik
Ø Membuat Laporan hasil penilaian sesuai format yang berlaku
Ø Membuat hasil analisa beban studi peserta didik berdasarkan data yang telah diserahkan oleh Penanggung Jawab Akademik
Ø Membuat hasil analisa penjurusan peserta didik berdasarkan data yang telah diserahkan oleh Penanggung Jawab Akademik
Ø Membuat hasil rekap mengenai kehadiran peserta didik, kehadiran guru berdasarkan data yang diserahkan oleh Penanggungjawab Akademik dan hasil input data Sistem Informasi Manajemen Absensi Guru dan Karyawan

3. TIM Pengelola Moving Kelas

TIM Pengelola moving Kelas secara akademik dibawah Wakasek Urusan Kurikulum yang secara umum menjalankan kewajiban dan tugasnya sesuai beban yang diberikan. TIM ini dapat dibentuk secara khusus dibawah Wakil Bidang Kurikulum yang secara Khusus memiliki tanggungjawab untuk:
Ø Mengelola Jadwal dan Perencanaan moving Kelas
Ø Mengkoordinasi Penanggung Jawab Akademik dalam pelaksanaan administrasi dan bimbingan terhadap peserta didik
Ø Menyiapkan format-format yang diperlukan untuk pengelolaan administrasi pembelajaran dan Pelaksanaan Pembelajaran
Ø Menyusun peraturan dalam pelaksanaan kegiatan PBM, remedial dan Pengayaan, piket guru dan Penetapan Peraturan Akademiknya.


Strategi Pengelolaan Moving Kelas

1. Pengelolaan Perpindahan Peserta didik
Ø Peserta didik berpindah ruang belajar sesuai mata pelajaran yang diikuti berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan
Ø Waktu perpindahan antar kelas adalah 5 menit.
Ø Peserta didik diberi kebebasan untuk menentukan tempat duduknya sendiri
Ø Peserta didik perlu ditegaskan peraturan tentang penggunaan ruang dan tata tertib dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran serta konsekuen-sinya
Ø Bel tanda perpindahan suatu kegiatan pembelajaran dibunyikan pada saat pelajaran kurang 5 menit.
Ø Sebelum tersedia loker, peserta didik diperkenankan membawa tas masuk dalam ruang belajar. Kegiatan pembelajaran di Laboratorium dibuat peraturan tersendiri hasil kesepakatan guru dengan laboran
Ø Peserta didik diberi toleransi keterlambatan 5 menit, diluar waktu tersebut peserta didik tidak diperkenankan masuk kelas sebelum melapor kepada guru piket atau Penanggung Jawab Akademik
Ø Keterlambatan berturut-turut lebih dari 3 (tiga) kali diadakan tindakan pembinaan yang dilakukan Penanggung Jawab akademik bersama dengan Guru Pembimbing.

2. Pengelolaan ruang belajar-Mengajar


Ø Guru diperkenankan untuk mengatur ruang belajar sesuai karakteristik mata pelajarannya
Ø Ruang belajar setidak-tidaknya memiliki sarana dan media pembelajaran yang sesuai, Jadwal Mengajar Guru, Tata Tertib Peserta didik dan Daftar Inventaris yang ditempel di dinding.
Ø Ruang belajar dapat dilengkapi dengan perpustakaan referensi dan sarana lainnya yang mendukung proses Pembelajaran
Ø Tiap rumpun Mata pelajaran telah disediakan prasarana multimedia. Penggunaan prasarana diatur oleh Penanggung Jawab Rumpun Mata Pelajaran
Ø Guru bertanggungjawab terhadap ruang belajar yang ditempatinya. Dengan demikian setiap guru memiliki kunci untuk ruang masing-masing.

3. Pengelolaan Pembelajaran


Ø Pembelajaran dilaksanakan secara TIM (Team Teaching) yang minmal terdiri dari 2 orang guru, dimana 1 orang guru sebagai guru utama dan yang lain sebagai kolaboran/asisten
Ø Dalam TIM Teaching, ada 1 guru yang bertanggung jawab untuk tingkat kelas yang berbeda. Misal : Guru penanggungjawab kelas X, Guru Penanggungjawab kelas XI dan Guru Penanggungjawab kelas XII.
Ø Apabila ada seorang guru tidak dapat mengajar karena suatu hal atau sedang melaksanakan tugas dan kegiatan kedinasan lain yang berkaitan dengan Peningkatan mutu, dapat digantikan dengan kolaboran dan kepada yang bersangkutan mengganti hari-hari tidak mengajar kepada kolaboran sebagai guru utama . Misalnya Seorang guru utama kelas X mempunyai kolaboran guru utama kelas XI, apabila guru utama kelas X tidak mengajar 6 jam maka yang bersangkutan berkewajiban mengganti sebagai guru utama kelas XI sebanyak 6 jam pelajaran.

4. Pengelolaan Administrasi Guru dan Peserta didik


Ø Guru berkewajiban mengisi daftar hadir peserta didik dan guru
Ø Guru membuat catatan-catan tentang kejadian-kejadian di kelas brerdasarkan format yang telah disediakan
Ø Guru mengisi laporan kemajuan belajar peserta didik, absensi peserta didik, keterlambatan peserta didik dan membuat rekapan sesuai format yang disediakan
Ø Guru membuat laporan terhadap hal-hal khusus yang memerlukan penanganan kepada Penanggung Jawab Akademik
Ø Guru membuat Jadwal topik/materi yang diajarkan kepada peserta didik yang ditempel di ruang belajar

5. Pengelolaan Remedial dan Pengayaan


Ø Remedial dan Pengayaan dilaksanakan diluar jam kegiatan Tatap Mu-ka dan Praktik.
Ø Remedial dan Pengayaan dilaksanakan secara TIM Teaching, dimana kolaboran dapat menjadi guru utama pada materi tertentu
Ø Kegiatan Remedial dan Pengayaan dapat menggunakan waktu dalam kegiatan Pembelajaran Tugas Terstruktur (25 menit) maupun Tak terstruktur ( 25 menit ) .
Ø Remedial dan Pengayaan dilaksanakan dalam waktu berbeda maupun secara bersamaan jika memungkinkan, misal : Guru utama memberi pengayaan, sedangkan kolaboran memberi remedial.
Ø Remedial dan Pengayaan dilaksanakan secara berkelanjutan berdasarkan hasil analisis postest , ulangan harian dan ulangan mid semester.

6. Pengelolaan Penilaian


Ø Penilaian dilakukan untuk mengukur proses dan produk hasil pembelajaran
Ø Penilaian Proses dilakukan setiap saat untuk menilai kemajuan belajar peserta didik, sedangkan penilaian produk/hasil belajar dilakukan melalui ulangan harian, mid semester maupun ulangan semester.
Ø Penilaian meliputi Kognitif, Praktik dan Sikap yang disesuaikan dengan peraturan yang telah ditetapkan serta mengacu pada karakteristik mata pelajaran
Ø Hasil penilaian dimasukkan sesuai dengan format yang telah disediakan dalam bentuk file excel yang kemudian diserahkan kepada Penanggung Jawab Akademik
Ø Untuk memudahkan Pengelolaan hasil penilaian maka hasil-hasil penilaian harian yang telah dilaksanakan segera diserahkan kepada Penaggung Jawab Akademik agar dapat dimasukkan kedalam Pengelolaan SIM Sekolah oleh TIM TIK
Ø Tidak diadakan Remedial untuk ujian/ulangan semester. Remedial dilakukan sesuai dengan ketentuan pengelolaan Remedial dan Pengayaan.
Ø Guru mata pelajaran bertanggungjawab dan memiliki kewenangan penuh terhadap hasil penilaian terhadap mata pelajaran yang diampunya. Segala perubahan terhadap hasil penilaian hanya dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan.

7. Kendala-kendala yang ada di Lapangan.

Ø Ruang yang tersedia tidak mencukupi. Solusinya sementara memanfaatkan ruang Laboratorium sebagai tempat Kegiatan Belajar Mengajar.
Ø Ruang ganti pakaian ketika pelajaran Penjasorkes. Solusinya memanfaatkan ruang di Indoor.
Ø Tempat tas ketika siswa mengikuti upacara, senam dan sholat di masjid. Solusinya di upayakan locker-locker untuk menyimpan tas, atau tiap ruang disediakan almari untuk menyimpan barang-barang berharga.
Ø Kegiatan MGMP tidak bisa diikuti oleh semua guru serumpun.
Ø Jika ada guru yang tidak hadir, peranan Guru Piket sangat membantu demi terlaksananya Kegiatan Belajar mengajar.
Ø Kebersihan kelas menjadi tanggung jawab guru mapel.

12 Mei 2010

Manajemen Mutu Sekolah dasar Berbasis Religi

Manajemen Mutu Sekolah Dasar Berbasis Religi (Studi Multi Kasus pada SD Mintu, SD Iwaha, SD Kasayuga dan SD Kripe). (Disertasi)

Ali Imron

Abstrak

Sekolah Dasar (SD) berbasis religi adalah salah satu jenjang pendidikan formal bernaung di bawah institusi religi, yang mengajarkaan mata pelajaran umum, dan agama, mempraktikkan aktivitas keagamaan dan budaya bernafaskan agama. Di antara SD berbasis religi, ada yang digandrungi oleh kandidat dan tetap survive meskipun banyak SD lain dilikuidai karena tidak mendapatkan siswa baru. Pertanyaannya, mengapa ada SD berbasis religi yang digandrungi dan tetap survie, sementara ada yang dilikuidasi karena tidak mendapatkan kandidat siswa baru?

Tujuan utama penelitian ini untuk mendeskripsikan secara mendalam manajemen mutu akademik SD berbasis religi, yang meliputi manajemen mutu kurikulum, pembelajaran dan kelas. Kedua, untuk memerikan secara mendalam manajemen mutu pendukung akademik SD berbasis religi, yang meliputi manajemen mutu kesiswaan, tenaga kependidikan, sarana prasarana, keuangan dan partisipasi masyarakat. Ketiga, untuk memerikan secara mendalam dan memberi makna atas akar manajemen mutu SD berbasis religi, yang meliputi akar religi, sosial dan kultural.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, rancangan studi multi kasus, dan orientasi pendekatan fenomenologis. Lokasi penelitian adalah SD Mintu, SD Iwaha, SD Kasayuga dan SD Kripe. Teknik pengumpulan data dengan observasi peran serta, wawancara mendalam dan dokumentasi. Analisis data pada kasus individual dengan model alir Miles dan Hubermen (1992), ialah data reduction, data display dan conclusion drawing/vervying, sedangkan analisis data lintas kasus dengan melakukan analisis perbandingan antar kasus sebagimana yang direkomendasikan oleh Yin (2002). Keabsahan data dengan teknik credibility, transferability, dependability dan conformability.

Berdasarkan proses pengumpulan dan analisis data didapatkan hasil berikut. Pertama, SD berbasis religi mempunyai komitmen mutu kuat, ditindaklanjuti dengan melakukan manajamen mutu, baik akademik maupun pendukung akademik. Manajemen mutu akademik terdiri atas manajemen mutu kurikulum, pembelajaran dan kelas. Manajemen mutu kurikulum adalah aktivitas penyiapan perangkat kurikulum secara bermutu, terutama program tahunan, program semester, dan silabus, sehinga siap dipedomani oleh tenaga kependidikan dalam melaksanakan pembelajaran bermutu. Manajamen mutu pembelajaran adalah aktivitas yang memberikan jaminan agar terjadi proses pembelajaran bermutu dan berujung pada pencapaian hasil belajar optimal. Manajemen mutu kelas adalah aktivitas mengorkestrasi fisik dan sosial kelas sehingga senantiasa on dan kondusif untuk aktivitas pembelajaran bermutu.

Kedua, manajemen mutu pendukung akademik terdiri atas manajamen mutu kesiswaan, tenaga kependidikan, sarana prasarana, keuangan dan partisipasi masyarakat. Manajemen mutu kesiswaan adalah memproses input siswa menjadi output bermutu sesuai dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Manajemen mutu tenaga kependidikan adalah aktivitas merekrut, menugasi, meningkatkan kemampuan, memberikan penghargaan kepada tenaga kependidikan agar memberikan kontribusi bermutu terhadap proses pendidikan. Manajemen mutu sarana prasarana adalah pengaturan sarana prasarana secara bermutu agar siap dipergunakan untuk mendukung pelaksanaan bidang akademik dan non akademik. Manajemen mutu keuangan adalah upaya penggalian sumber dan pembelanjaannya secara bermutu dan selektif, guna mendukung aktivitas dan mutu pendidikan. Manajemen mutu partisipasi masyarakat adalah aktivitas penggalangan, penerlibatan dan penggerakan secara bermutu potensi masyarakat, terutama orang tua dalam mendukung proses pendidikan.

Ketiga, terdapat tiga akar manajemen mutu SD berbasis religi, ialah akar religi, sosial dan kultural. SD berbasis religi memaknai religi sebagai inspirator utama dalam manajemen mutu sekolah. Ajaran religi dimaknai optimistik, ialah bahwa apa yang dicapai seseorang berkat apa yang dikerjakan. Menjadi tenaga kependidikan dimaknai sebagai orang terpilih. Bekerja di lembaga pendidikan dimaknai sebagai jalan yang dipilihkan oleh Tuhan, sehingga harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Pelayanan kepada siswa dimaknai sebagai pelayanan terhadap religi, dan bahkan merupakan bagian dari pelayanan terhadap Tuhan. Pengelola dan tenaga kependidikan yang berlatar perkotaan asli yang mementingkan kekeluargaan dan kerja sama dibandingkan kompetisi; sedangkan yang berlatar sosial perkotaan urban cenderung berkompetisi meskipun tetap dalam bingkai solidaritas (solidarity frame). Orang tua siswa berlatar sosial ekonomi menengah ke atas sangat peduli dengan pendidikan anak, dan memberikan kontribusi besar terhadap sekolah; sedangkan yang berlatar sosial ekonomi menengah ke bawah kepeduliannya terhadap pendidikan anak dan kontribusinya terhadap sekolah terkategori rendah. SD berbasis religi mempunyai kultur mutu yang digali, dikembangkan dan disempurnakan oleh pendiri dan diwarisi oleh penerusnya. Kultur mutu disimbolkan dalam motto yang menginspirasi warga sekolah berlomba mencapai mutu.

Berdasarkan uraian disarankan sebagai berikut. SD berbasis religi perlu merekonstruksi makna mutu holistik agar selalu gayut dengan aspirasi dinamis stake holders, kemudian menindaklanjuti dengan manajemen mutu akademik dan pendukung akademik. Jurusan AP pada LPTK, patut merekekonstruksi kurikulum, dengan memperkuat perspektif sosilogis dan kultural, serta mengakomodasi multiple intelegence. Pemahaman keagamaan optimistik, akar sosial perkotaan urban yang mengedepankan semangat kompetisi berbasis solidaritas, kultur mutu yang disimbolkan dalam berbagai moto, patut dikelola oleh pengelola SD berbasis religi dengan optimal. Dinas Pendidikan dan Kantor Depag Kota Maja patut menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu input kebijakan peningkatan mutu pendidikan. Para peneliti patut menverivikasi hasil riset ini dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif pada multi kasus dan pada jenjang pendidikan lain.

16 November 2009

KALIMAT LANGSUNG DAN TAK LANGSUNG

Kalimat Langsung dan Tak Lansung
Kopentensi :
1. Siswa dapat menuliskan kalimat langsung dengan benar.
2. Siswa dapat mengubah kalimat langsung ke tak langsung atau sebaliknya
3. Siswa dapat menggunakan dengan tepat dalam kehidupan sehari-hari
Kalimat langsung adalah : Kalimat hasil kutipan pembicaaraan seseorang persis seperti apa yang dikatakannya.
Contoh :
Kata Desmon,” Anggel nanti pulangnya saya antar!”
“Anggel Nanti pulangkanya kamu saya antar ya?” kata Desmon.
Kata Desmon disebut kalimat pengiring.
Jikapengiring di belakang perhatikan tanda baca sebelum tanda kutib( Jika kalimat tanya dan perintah sebelum tanda kutib menggunakan tanda ? atau ! jika kalimat berita menggunakan koma. Selain itu Huruf awal di pengiring huruf kecil perhatikan contoh berikut.
1. ” Kapan bukuku kamu kembalikan?“ tanya Samid.
2. ” Belikan saya mobil baru!“ pinta Tria.
3. ” Saya akan datang nanti malam,“ kata Hamid.
Perubahan Kalimat Langsung ke Tak Langsung
Dalam perubahan bentuk ini perhatikan perubahan kata gantinya:
Langsung —>Tak Lansung
Saya —-> Dia
Kamu —–> Saya
Kalian —–> Kami
Kami —–> Mereka
Kita —–> Kami
Ada alternatif lain agar tidak menghafal :
Caranya Posisikan diri anda menjadi orang yang diajak bicara setelah itu informasikan kepada orang ketiga.
Contoh : Kata Dhani,” Coba kamu bantu saya menyelesaikan tugas ini!”
Maka anda menjadi orang yang diajak bicara Dhani,
Setelah itu ada orang lain yg bertanya : Dhani tadi bicara apa?
jawab: Dhani mengatakan supaya saya membatu dia menyelesaikan tugas.
Jawaban anda itulah kalimat tak langsungnya.
Selamat mencoba.
1. Paman mengatakan,” Pulanglah kalian secepatnya karena sebentar lagi hujan turun.”
2. Kata Ketua Rombongan,” Terimakasih atas sambutan kalian kepada kami pada acara kunjungan kami,”
Kalimat Tak Lansung.
Kalimat menyatakan isi ujaran orang ketiga tanpa mengulang kata-katanya secaraCara merubah Kalimat tak langsung ke Kalimat langsung.
Contoh :
Webby mengatakan bahwa dia akan datang kerumahku nanti sore.
Untuk merubahnya maka anda harus :
1. Menerka kira-kira Webby bicaranya apa saat itu.
2. Ubahlah kembali ke Tak Langsung lagi sebagi cek ulang.
Hasilnya :
Kata Webby,” Saya nanti sore akan kerumahmu.”

FRASE

Frase
Frase adalah bagian kalimat yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melebihi
batas fungsi.
Artinya satu frase maksimal hanya menduduki gatra subjek (S), predikat (P) atau
objek (O) atau keterangan (K).
Frase dibedakan atas:
a. Frase endosentris, ada dua macam:
1. Endosentris koodinatif (setara), yaitu frase yang setidaknya memiliki dua inti.
Misalnya: meja kursi, maju mundur, bapak ibu.
2. Endosentris atributif (frase bertingkat), yaitu frase yang terdiri atas unsur inti
(Diterangkan/D) dan unsur penjelas (Menerangkan/M).
Misalnya: pegawai negeri,perusahaan rokok, tidak pergi
Frase bertingkat mempunyai pola
DM, MD dan MDM( dalam frase bertingkat hanya ada satu unsur inti (D) sedangkan penjelasnya boleh lebih dari satu.
Contoh:
baju baru
D M
anak manis
D M
sebatang rokok kretek
M D M
sebuah rumah mewah
M D M
seorang guru
M D
sepotong roti
M D
2. Frase eksosentris.
sebuah susunan yang merupakan gabungan dua kata (atau lebih) yang menunjukkan bahwa kelas kata dari perpaduan itu tidak sama dengan kelas kata dari salah satu(atau lebih) unsur pembentukannya.
Contoh :
dari sekolah (kata keterangan)  dari (kata depan) sekolah (kata benda),
yang memimpin(kata benda)  yang (kata tugas) memimpin (kata kerja
Menurut jenis kata, frase dibedakan:
-frase nominal (kata benda)
-frase verbal (kata kerja)
-frase adjektival (kata sifat)
-frase numeralia (kata bilangan)
-frase adverbial(kata keterangan)
-frase preposisional (kata depan)

KALIMAT VERBAL DAN NOMINAL

Kalimat Verbal dan Nominal
1. Kalimat verbal. yaitu kalimat yang predikatnya kata kerja.
Contoh:
• Adik tidur.
• Dia tidak melamun, tetapi berpikir,
2. Kalimat nominal, yaitu Kalimat yang predikatnya bukan kata kerja.
• Nartosabdo dalang.
• Mereka murid-murid kebanggaan.
• Pelajar di sekolah ini hampir semuanya rajin dan disiplin

STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA

STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA
Kalimat adalah:Satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan suatu pikiran yang utuh . Dalam suatu kalimat terdiri dari beberapa unsur antara lain subyek,predikat, obyek ,pelengkap dan keterangan.
Kalimat dikatakan sempurna jika minimal memliki unsur Subyek dan Predikat.
1. Ciri-Ciri Subjek
• Jawaban atas Pertanyaan Apa atau Siapa kepada Predikat.
Contoh :
1. Juanda memelihara binatang langka
Siapa memelihara? Jawab : Juanda. (maka juanda adalah S sedangkan
memelihara adalah predikat)
Siapa atau apa Binatang langka ? = tidak ada jawaban
2. Meja itu dibeli oleh paman.
Apa dibeli ? = jawab Meja
• Biasanya disertai kata itu,ini,dan yang (yang ,ini,dan itu juga sebagai pembatas antara subyek dan predikat)
Contoh : Anak itu mengambil bukuku
S P
2 Ciri-Ciri Predikat
• Menimbulkan Pertanyaan apa atau siapa.
Dalam hal ini jika predikat maka dengan pertanyaan tersebut akan ada jawabannya.
Perhatikan pada Subyek diatas. Subyek dan predikat ditentukan secara bersama-sama.
• Kata Adalah atau Ialah
Predikat kalimat dapat berupa kata adalah atau ialah. Kalimat dengan Predikat demikian itu terutama digunakan pada kalimat majemuk bertingkat anak kalimat pengganti predikat.
• Dapat Disertai Kata-kata Aspek atau Modalitas
Predikat kalimat yang berupa verba atau adjektiva dapat disertai kata-kata aspek seperti telah, sudah, sedang, belum, dan akan. Kata-kata itu terletak di depan verba atau adjektiva. Kalimat yang subjeknya berupa nomina bernyawa dapat juga disertai modalitas, kata-kata yang menyatakan sikap pembicara (subjek), seperti ingin, hendak, dan mau.
3 Ciri-Ciri Objek
Predikat yang berupa verba intransitif (kebanyakan berawalan ber- atau ter-) tidak memerlukan objek, verba transitif yang memerlukan objek kebanyakan berawalan me-. Ciri-ciri objek ini sebagai berikut.
• Langsung di Belakang Predikat
Objek hanya memiliki tempat di belakang predikat, tidak pernah mendahului predikat.
• Dapat Menjadi Subjek Kalimat Pasif
Objek yang hanya terdapat dalam kalimat aktif dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Perubahan dari aktif ke pasif ditandai dengan perubahan unsur objek dalam kalimat aktif menjadi subjek dalam kalimat pasif yang disertai dengan perubahan bentuk verba predikatnya.
• Didahului kata Bahwa
Anak kalimat pengganti nomina ditandai oleh kata bahwa dan anak kalimat ini dapat menjadi unsur objek dalam kalimat transitif.
4 Ciri-Ciri Pelengkap
Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi subjek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap. Berikut ciri-ciri pelengkap.
• Di Belakang Predikat
Ciri ini sama dengan objek. Perbedaannya, objek langsung di belakang predikat, sedangkan pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek. Contohnya terdapat pada kalimat berikut.
a) Diah mengirimi saya buku baru.
b) Mereka membelikan ayahnya sepeda baru.
Unsur kalimat buku baru, sepeda baru di atas berfungsi sebagai pelengkap dan tidak mendahului predikat.
• Hasil jawaban dari predikat dengan pertanyaan apa.
Contoh :
a. Pemuda itu bersenjatakan parang.
Kata parang adalah pelengkap.
Bersenjatakan apa ? jawab parang ( maka parang sebagai pelengkap )
b. Budi membaca buku.
Membaca apa ? jawab buku (buku sebagai obyek karena dapat
menempati Subyek)
5 Ciri-Ciri Keterangan
Ciri keterangan adalah dapat dipindah –pindah posisinya . perhatikan contoh berikut:
Cintya sudah membuat tiga kue dengan bahan itu.
S P O K
Dengan bahan itu Cintya sudah membuat tiga kue .
Cintya dengan bahan itu sudah membuat tiga kue.
Dari jabatan SPOK menjadi KSPO dan SKPO .Jika tidak dapat di pindah maka bukan keterangan.